Bahasa Slang dan Bentuk Kreativitas Linguistik dalam Caption TikTok Remaja Indonesia
Penulis: Windi Aulia
Sumber Foto: https://pin.it/29gb0lFeA
Media sosial TikTok telah menjadi ruang eksplorasi bahasa yang sangat dinamis, terutama di kalangan remaja Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk bahasa slang serta kreativitas linguistik yang muncul dalam caption video TikTok. Melalui pendekatan sosiolinguistik dan morfologi, penelitian ini mengidentifikasi pola pembentukan slang, modifikasi kata, hingga penciptaan makna baru dalam konteks digital. Data dikumpulkan secara dokumentatif dari akun TikTok remaja populer dalam kurun waktu dua bulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya inovasi bahasa yang khas, seperti akronim kreatif, hibridisasi kata asing dan lokal, hingga gaya ejaan ekspresif yang mencerminkan identitas kolektif generasi muda. Temuan ini memperlihatkan peran penting media sosial dalam perkembangan ragam bahasa tidak baku yang sarat makna sosial dan budaya.
Kata kunci: bahasa slang, kreativitas linguistik, TikTok, remaja, sosiolinguistik.
TikTok social media has become a very dynamic space for language exploration, especially among Indonesian teenagers. This study aims to describe the forms of slang and linguistic creativity that appear in TikTok video captions. Through a sociolinguistic and morphological approach, this study identifies patterns of slang formation, word modification, and the creation of new meanings in a digital context. Data were collected documentary from popular teenage TikTok accounts over a period of two months. The results of the study show distinctive language innovations, such as creative acronyms, hybridization of foreign and local words, and expressive spelling styles that reflect the collective identity of the younger generation. These findings demonstrate the important role of social media in the development of non-standard language varieties that are full of social and cultural meanings.
Keywords: slang, linguistic creativity, TikTok, teenagers, sociolinguistics.
Dalam era digital, media sosial bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga tempat berkembangnya praktik bahasa yang inovatif. TikTok, sebagai platform berbasis video pendek, menjadi panggung baru bagi ekspresi diri, termasuk dalam bentuk caption yang ditulis secara kreatif. Remaja, sebagai pengguna dominan platform ini, sering menggunakan bahasa slang dan strategi linguistik yang mencerminkan identitas generasi mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana remaja Indonesia membentuk dan memodifikasi bahasa dalam caption TikTok, serta bagaimana fenomena ini berkontribusi pada dinamika kebahasaan di Indonesia.
Bahasa Slang dalam Kajian Sosiolinguistik
Slang merupakan bentuk bahasa tidak baku yang digunakan dalam komunitas tertentu untuk menunjukkan keakraban, identitas, atau diferensiasi sosial (Eble, 1996). Slang bersifat temporer, kontekstual, dan penuh kreativitas.
Kreativitas Linguistik
Menurut Cook (2000), kreativitas linguistik mencakup permainan kata, penciptaan bentuk baru, dan inovasi dalam struktur bahasa. Di media sosial, kreativitas ini sering muncul dalam bentuk pemendekan, penggabungan, dan modifikasi fonologis.
Bahasa di Media Sosial
Bahasa media sosial bersifat hibrid dan fleksibel. Crystal (2006) menyebutnya sebagai "netspeak", yaitu bentuk komunikasi baru yang memadukan lisan dan tulisan.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari 100 caption TikTok dari akun remaja (usia 13–19 tahun) yang memiliki konten populer dan representatif secara kebahasaan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data dilakukan melalui klasifikasi bentuk slang, identifikasi pola morfologis, dan interpretasi makna sosialnya.
Bentuk Bahasa Slang yang Digunakan
Pemendekan: seperti btw (by the way), gws (get well soon), skl (sekali).
Akronim lokal: gabut (gaji buta), mager (malas gerak).
Kata plesetan: ciwi-ciwi (cewek), julid (iri atau suka mengomentari orang lain).
Campuran bahasa asing dan lokal: ngedate, selfie-an, nge-prank.
Kreativitas Linguistik
Ejaan ekspresif: seperti ciyusss, aku tuh yaa~, gemessshhh, untuk menyampaikan intonasi atau ekspresi lisan.
Pemakaian emoji dan simbol sebagai pelengkap tuturan, seperti “gak nyangka sih...!!! crying in aesthetic”.
Penggunaan metafora budaya pop: seperti “aku ditinggal pas sayang-sayangnya, kayak Iron Man ninggalin Peter Parker.”
Fungsi Sosial
Bahasa dalam caption TikTok mencerminkan identitas remaja yang:
Ingin terlihat lucu, gaul, dan unik.
Mengukuhkan kebersamaan dalam komunitas digital.
Mengekspresikan emosi dan opini secara tidak konvensional.
Caption TikTok remaja Indonesia menjadi cerminan kreativitas linguistik yang tinggi. Penggunaan slang dan modifikasi bahasa tidak hanya menunjukkan perkembangan bahasa yang dinamis, tetapi juga memperlihatkan fungsi bahasa sebagai alat pembentuk identitas sosial dan budaya digital. Kajian ini menggarisbawahi pentingnya memahami dinamika bahasa tidak baku dalam konteks media sosial untuk melihat perkembangan bahasa Indonesia secara lebih inklusif.
Crystal, D. (2006). Language and the Internet. Cambridge University Press.
Eble, C. (1996). Slang and Sociability: In-Group Language among College Students. University of North Carolina Press.
Cook, G. (2000). Language Play, Language Learning. Oxford University Press.
Wardhaugh, R. (2006). An Introduction to Sociolinguistics. Blackwell Publishing.

Komentar
Posting Komentar