Impian Jadi Ilmuwan Hebat, Tapi Punya Trauma Sama Rumus-Rumus
Penulis: Windi Aulia
Sumber Foto: https://pin.it/2ura5s1il
Sesuatu yang Lucu
Sejak kecil, cita-cita menjadi ilmuwan terasa begitu keren. Terbayang mengenakan jas lab putih, berdiri di ruang penuh tabung reaksi, dan sesekali menatap serius ke layar komputer sambil mengetik rumus-rumus misterius seperti di film-film luar negeri. Ilmuwan terlihat cerdas, tenang, dan keren, kombinasi sempurna untuk membuat keluarga bangga dan tetangga iri.
Namun realita segera menunjukkan sisi lain dari dunia ilmuwan: penuh dengan angka, rumus, dan hal-hal yang membuat kepala mendadak migrain.
Perjuangan dimulai saat mencoba memahami pelajaran IPA. Awalnya semangat, bahkan sempat beli mikroskop mainan dan mulai mengamati semut di halaman. Tapi semangat itu mulai goyah ketika disuruh menghafal tabel periodik. Logam alkali, halogen, gas mulia, semuanya terdengar seperti nama-nama anggota boyband yang susah diingat.
Lalu datanglah si biologi. Awalnya menarik, belajar tentang makhluk hidup. Tapi kenapa makin lama makin ribet? Anatomi manusia, sistem ekskresi, dan nama-nama latin yang lebih sulit dari nama Wi-Fi tetangga. Pernah mencoba menggambar organ tubuh, hasilnya malah lebih mirip peta jalur angkot.
Fisika juga tak kalah menyiksa. Mimpi jadi ilmuwan luar angkasa sirna ketika harus menghitung kecepatan benda jatuh dengan rumus yang panjangnya seperti jalan kenangan. Belum lagi matematika yang selalu datang tanpa aba-aba, mengacak-acak kedamaian hidup dengan simbol akar, logaritma, dan integral yang entah dari mana asal usulnya.
Tapi impian tak lantas hilang. Meskipun nilai ujian pas-pasan dan alat lab pernah nyaris meledak karena salah campur cairan, keinginan untuk jadi ilmuwan tetap hidup, meski lebih realistis. Bukan lagi menciptakan obat penyembuh segala penyakit, tapi cukup bisa bikin kopi tanpa lupa matiin kompor.
Kini, impian jadi ilmuwan berubah bentuk. Bukan sekadar penemu hebat atau pemenang Nobel, tapi ilmuwan dalam kehidupan sehari-hari: eksperimen resep mie instan, riset tempat makan murah meriah, dan analisis mendalam soal kenapa sinyal Wi-Fi cuma kencang kalau dekat pintu.
Karena pada akhirnya, jadi ilmuwan tak harus selalu di laboratorium. Kadang, jadi manusia yang terus penasaran dan mencoba hal baru pun sudah cukup ilmiah. Meskipun rumus masih jadi musuh, rasa ingin tahu tetap jadi bahan bakar paling kuat dalam hidup.

Komentar
Posting Komentar