Kenapa Generasi Z Lebih Memilih Healing daripada Menabung?

Penulis: Tamara Geraldin
Sumber Foto: https://pin.it/10Tkneuhk




Artikel Ilmiah Populer


Bayangkan kamu baru saja menerima gaji pertama. Setelah dipotong uang kos, makan, dan pulsa, tersisa beberapa ratus ribu. Pilihannya dua: ditabung untuk masa depan yang belum pasti, atau dipakai buat healing akhir pekan ini ke Lembang bareng sahabat?

Kalau kamu Generasi Z, besar kemungkinan kamu akan memilih yang kedua. Dan kamu tidak sendiri.


Menabung? Nanti Dulu…

Menurut survei Bank of America (2023), hanya 31% Gen Z yang rutin menabung untuk masa depan. Bandingkan dengan generasi milenial yang mencapai 54%. Apa yang terjadi? Apakah Gen Z memang kurang bertanggung jawab dalam mengatur keuangan?

Tidak juga. Yang berubah adalah prioritas.

“Waktu pandemi, aku kehilangan orang-orang terdekat dalam waktu singkat. Sejak itu aku sadar, hidup ini terlalu pendek buat ditunda-tunda,” kata Amelia (23 tahun), mahasiswi asal Bandung yang rutin traveling setiap tiga bulan. Baginya, healing bukan sekadar gaya hidup itu bentuk pemulihan batin.


Self-Care adalah Investasi

Generasi Z adalah generasi yang paling vokal soal kesehatan mental. Mereka tumbuh di era serba cepat, penuh tekanan, dan selalu online. Wajar jika mereka lebih peka terhadap burnout, stres, dan perasaan tidak aman.

Laporan McKinsey & Company (2022) mencatat bahwa satu dari empat Gen Z di Asia Tenggara menjadikan self-care sebagai prioritas utama dalam pengeluaran. Mereka tidak melihat healing sebagai pemborosan, melainkan sebagai bentuk perawatan diri. Dan bentuknya bisa bermacam-macam: staycation, nonton konser, belanja skincare, atau sekadar ngopi di kafe estetik.


Media Sosial dan Gaya Hidup “Terlihat Bahagia”

Tidak bisa dimungkiri, media sosial juga membentuk cara Gen Z melihat kebahagiaan dan kesuksesan. Hidup yang indah adalah hidup yang bisa diabadikan dan dibagikan.

“Kadang healing itu bukan soal destinasi, tapi soal momen. Kalau bisa upload dan orang komen ‘pengen deh ke sana!’, itu rasanya validasi juga,” ujar Dimas (21 tahun), seorang konten kreator. Di era visual ini, pengalaman lebih punya nilai ketimbang angka di tabungan.


Lalu, Apakah Ini Buruk?

Bukan berarti semua Gen Z anti menabung. Banyak dari mereka juga paham pentingnya literasi finansial, tapi mereka mencari cara yang lebih manusiawi dalam mengatur uang. Mereka tak mau hidup hemat tapi stres, atau punya tabungan banyak tapi kehilangan makna hidup.

Seperti kata perencana keuangan Ligwina Hananto dalam podcast Thirty Days of Lunch:

“Hidup bukan cuma tentang sekarang, tapi juga tentang menyayangi diri sendiri di masa depan.”

Dan di sinilah tantangannya: menemukan balance.


Boleh Healing, Tapi Jangan Lupa Nabung

Tidak ada yang salah dengan healing. Tapi akan lebih bijak jika healing dan menabung bisa jalan berdampingan. Misalnya dengan konsep conscious spending: belanja dengan sadar, tahu prioritas, dan tahu batas.

Kamu bisa tetap liburan tanpa harus mengorbankan masa depan. Kamu bisa tetap nongkrong tanpa harus mengorbankan dana darurat. Yang penting: sadar, terencana, dan sesuai kemampuan.

Karena sejatinya, healing itu penting. Tapi masa depanmu juga tidak kalah penting.


DAFTAR PUSTAKA

Bank of America. (2023). Better Money Habits Report
McKinsey & Company. (2022). Gen Z in Southeast Asia: Insights and Implications
Podcast Thirty Days of Lunch, Episode “Uang, Bahagia, dan Masa Depan” bersama Ligwina 
Hananto
Wawancara langsung (nama disamarkan untuk privasi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Even If This Love Disappears from the World Tonight: Cinta yang Diperjuangkan Meski Terus Terlupakan

Lentera Asa di Cakrawala

The First Responders: Drama Humanis yang Menggugah di Tengah Ketegangan Aksi